Program “Sawah Pokok Murah”: Sebuah Strategi Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Petani Lokal di Nagari Kampung Pinang
Penulis: Mahasiswa KKN Universitas Andalas

Pertanian padi merupakan tulang punggung perekonomian masyarakat di banyak wilayah pedesaan Indonesia, termasuk di Nagari Kampung Pinang, Kabupaten Agam. Dengan mayoritas penduduk menggantungkan hidup pada hasil sawah, keberlangsungan produksi padi menjadi hal yang sangat krusial bagi kesejahteraan keluarga petani. Namun, tantangan yang dihadapi tidak sedikit mulai dari fluktuasi harga gabah, biaya produksi yang tinggi, serangan hama penyakit, hingga keterbatasan pengetahuan petani terhadap teknik budidaya modern yang efisien dan berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, lahirlah Program Sawah Pokok Murah yang digagas oleh pemerintahan Kabupaten Agam sebagai salah satu dari beberapa program utama mereka. Sawah Pokok Murah merupakan sebuah inisiatif yang dirancang untuk membantu petani menekan biaya produksi tanpa mengorbankan kualitas hasil panen. Program ini tidak hanya fokus pada pengurangan pengeluaran, tetapi juga pada peningkatan kapasitas petani melalui pendampingan langsung di lapangan, salah satunya melalui Sekolah Lapangan (SL) yang rutin dilakukan oleh Pemerintah Nagari Kampung Pinang dan di dampingi oleh penyuluh dari Balai Pertanian kepada keseluruhan kelompok tani yang ada di Nagari Kampung Pinang. Di hadiri secara rutin oleh petani dan difasilitasi oleh Penyuluh dari Balai Pertanian dan dibarengi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas.
Sawah Pokok Murah adalah metode budidaya padi yang mengutamakan efisiensi penggunaan input pertanian seperti benih, pupuk, dan pestisida dengan memanfaatkan sumber daya lokal, teknologi tepat guna, dan pengendalian hama ramah lingkungan. Tujuannya adalah menekan biaya produksi secara signifikan, sehingga harga pokok produksi (HPP) beras menjadi lebih rendah, tetapi kualitas hasil tetap terjaga bahkan meningkat. Pendekatan ini tidak hanya menitikberatkan pada aspek teknis budidaya, melainkan juga pada penguatan pengetahuan petani melalui pembelajaran bersama yang di dampingi oleh penyuluh dari Balai Pertanian, percobaan lapangan, dan evaluasi berkelanjutan. Dengan cara ini, petani tidak sekadar menjadi pelaksana, tetapi juga menjadi pengambil keputusan dalam setiap proses produksi di sawah mereka.
Sebagai bagian dari upaya mendukung Program Sawah Pokok Murah, mahasiswa KKN yang bertugas di Nagari Kampung Pinang mengambil peran aktif dalam pendampingan Sekolah Lapangan (SL). Kegiatan ini dilaksanakan secara bertahap dan berlanjut pada setiap pertemuan, membahas berbagai aspek teknis pertanian padi sesuai dengan fase pertumbuhannya. Pada kesempatan ini, Pemerintah Nagari Kampung Pinang, Balai Pertanian dan mahasiswa KKN bersama masyarakat petani melaksanakan pertemuan ke-6 dan pertemuan ke-7 dari rangkaian Sekolah Lapangan. Kedua pertemuan ini menjadi momen penting karena fokusnya adalah pada pengendalian hama padi, salah satu faktor penentu keberhasilan panen.
Pertemuan ke-6 (24 Juli, 2025) diawali dengan sesi diskusi di lahan sawah percobaan. Petani dan mahasiswa KKN bersama-sama melakukan monitoring lapangan, mengamati kondisi pertanaman padi, dan mengidentifikasi keberadaan hama maupun gejala serangan penyakit. Monitoring ini dilakukan dengan metode pengamatan langsung di beberapa titik sampling yang mewakili kondisi keseluruhan lahan. Hama yang menjadi fokus pengamatan antara lain wereng batang cokelat, penggerek batang padi, dan tikus sawah. Melalui pengamatan ini, peserta Sekolah Lapangan belajar mengenali tanda-tanda awal serangan, siklus hidup hama, serta dampak yang ditimbulkan jika tidak dilakukan pengendalian sedini mungkin.

Mahasiswa KKN membantu dalam pencatatan data hasil monitoring, termasuk jumlah populasi hama per rumpun, persentase serangan, serta kondisi kesehatan tanaman. Data ini kemudian digunakan untuk menentukan ambang kendali, yaitu batas populasi hama yang menjadi dasar apakah pengendalian perlu dilakukan atau tidak.
Selain itu, pada pertemuan ini juga diberikan edukasi tentang pengendalian hama terpadu (PHT) yang mengutamakan penggunaan metode ramah lingkungan, seperti pengendalian hayati menggunakan musuh alami, rotasi tanaman, dan sanitasi lahan. Prinsip PHT menekankan bahwa penggunaan pestisida kimia hanya dilakukan jika benar-benar diperlukan dan dengan dosis tepat untuk meminimalkan dampak negatif pada lingkungan.
Kegiatan diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana petani dapat berkonsultasi langsung tentang masalah yang mereka hadapi di lahan masing-masing kepada penyuluh dari Balai Pertanian. Mahasiswa KKN dalam kegiatan ini berperan dalam mendampingi kegiatan Sekolah Lapangan, memastikan bahwa informasi dari penyuluh tersampaikan dengan jelas dan dapat dipahami oleh seluruh peserta.
Setelah memahami pentingnya monitoring pada pertemuan sebelumnya, pertemuan ke-7 (31 Juli, 2025) difokuskan pada praktik pembuatan perangkap hama sebagai langkah konkret pengendalian di lapangan. Kegiatan dimulai dengan sosialisasi jenis-jenis perangkap hama yang efektif digunakan pada budidaya padi, seperti:
1. Light trap (perangkap cahaya) untuk menarik serangga malam.
2. Yellow sticky trap (perangkap kuning perekat) untuk mengendalikan serangga yang tertarik pada warna kuning, seperti wereng.
Mahasiswa KKN dan penyuluh memberikan sosialisasi langsung cara membuat dan memasang perangkap tersebut. Bahan-bahan yang digunakan sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar, seperti botol bekas, bambu, plastik, dan lem perekat khusus, sehingga tidak memerlukan biaya besar.
Pada sesi praktik, petani dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok didampingi mahasiswa KKN untuk memastikan proses pembuatan sesuai instruksi. Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan semangat gotong royong di antara petani. Hasil perangkap yang dibuat kemudian langsung dipasang di beberapa titik strategis di lahan sawah percobaan. Selain untuk menangkap hama, pemasangan perangkap ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi berkelanjutan, karena petani dapat melihat secara langsung efektivitas perangkap tersebut pada kunjungan berikutnya.
Kedua pertemuan ini memberikan dampak yang signifikan bagi para petani peserta Sekolah Lapangan. Melalui monitoring, petani menjadi lebih peka terhadap kondisi tanaman dan memahami pentingnya deteksi dini. Sementara itu, melalui pembuatan perangkap hama, mereka memiliki keterampilan baru yang dapat diterapkan secara mandiri di lahan masing-masing. Peran mahasiswa KKN dalam kegiatan ini tidak hanya sebatas pendamping, tetapi juga sebagai penghubung antara pengetahuan teknis yang dibawa oleh penyuluh pertanian dengan kebutuhan praktis petani di lapangan. Interaksi yang terjalin menciptakan suasana belajar yang partisipatif, di mana setiap peserta merasa memiliki peran penting dalam keberhasilan program.
Program Sawah Pokok Murah di Nagari Kampung Pinang menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah nagari, penyuluh pertanian, mahasiswa KKN, dan masyarakat petani dapat menghasilkan strategi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Melalui pendekatan efisiensi biaya, peningkatan pengetahuan, dan penerapan teknologi tepat guna, petani dapat mengurangi pengeluaran, meningkatkan hasil panen, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Pertemuan ke-6 dan ke-7 Sekolah Lapangan menjadi langkah penting dalam perjalanan panjang ini. Monitoring dan pengendalian hama yang dilakukan secara partisipatif, ditambah dengan keterampilan membuat perangkap hama dari bahan lokal, membekali petani dengan alat dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk menghadapi tantangan di musim tanam mendatang. Dengan keberlanjutan program ini, diharapkan Nagari Kampung Pinang dapat menjadi contoh sukses bagi daerah lain dalam mengembangkan pertanian yang mandiri, efisien, dan menguntungkan.
