sejarah nagari kampung pinang
Disebut Asal Usul Nagari yaitu dari Taratak Manjadi Koto, dari Koto Manjadi Nagari. Asal Usul Nagari Kampung Pinang berdasarkan turunan sejarah dari orang tua-tua. Pada Tahun 1800 M penduduk Nagari Subarang Tigo Jorong Koto Gadang Bukittinggi sudah ramai sedangkan untuk tanah pertanian rakyat terbatas, sehingga Ninik Moyang mencari jalan keluar untuk penangganannya. Hal ini harus dipecahkan dengan Transmigrasi lokal. Maka diutuslah beberapa orang untuk pergi kearah Barat untuk mencari tanah untuk tempat bertani sekaligus tempat tinggal. Yang dituju adalah daerah Agahan (Geragahan).
Berangkatlah para utusan menuju daerah yang disebut diatas, sesampai mereka di Agahan (Garagahan), mereka terharu dan kagum, karena tanahnya sangatlah luas, sedangkan penduduknya masih sedikit ( jarang dan lengang ). Tidak berapa lama mereka tinggal, para utusan tadi kembali ke darek Subarang Tigo Jorong Koto Gadang dan sesampai disana diceritakanlah situasi dan kondisi daerah Agahan (Garagahan) tersebut. Tidak berapa lama kemudian bermufakatlah beberapa orang ninik mamak dengan anak kemenakan untuk datang dan meminta tanah untuk pertanian dan tempat tinggal. Berangkatlah 6 (enam) orang Ninik Mamak yaitu Dt. Bandaro Putiah Suku Piliang, Dt. Ganduik Suku Koto, Dt. Panawa Labiah Suku Koto, Dt. Mantari Sati Suku Sikumbang, Dt. Nan Labiah Suku Tanjuang dan Dt. Tambijo Suku Sikumbang beserta anak kemenakan menuju Padang Garagahan, sesampai disini Ninik Mamak tadi langsung menemui / menghadap Rajo Tigo Selo (Datuak Mudo, Datuak Rangkayo Tan Pahlawan dan Datuak Siaga ) maksud dan tujuan disampaikan kepada Rajo Tigo Selo tersebut, Insya Allah dengan hati yang tulus kehendak diberi, pintak diperlakukan oleh Rajo Tigo Selo tanpa syarat apapun. Ditunjuklah tanah yang diberikan ; mulai dari Kubang terus arah kebarat sampai batas Nagari Manggopoh, sedangkan arah Utara tidak ditetapkan luasnya, karena semua daerah masa itu diselimuti hutan yang sangat lebat. Mulailah merambah, menebang kayu yang besar dan membersihkan hutan, tidak lama tinggal di sana karena daerah itu tidak dapat dipersawahi sebab tali bandar belum ada. Mereka mulai begeser ke arah Utara mencari lahan Baru mendekati Anak Aia Batang Piarau dan Batang Sitalang. Disana mereka buat empangan anak aia, membuat tali bandar dan di taruko persawahan serta mendirikan rumah tempat tinggal. Jadi secara ber-angsur-angsur mereka bergeser arah utara dan tempat yang semula mulai ditinggalkan. Itulah sebabnya Nagari Kmapung Pinang membujur dari selatan kearah Utara Berkisar 1835 M dan 1836 M Nagari Kampung Pinang, itu sudah menjadi sebuah Nagari yang diperintah oleh Penghulu Suku, seterusnya bulan Nopember 1846 Pemerintahan Belanda mengangkat seorang Raja di daerah ini, Pemerintahannya bernama Kelarasan Lubuk Basung dan Kepala Pemerintahannya bernama Laras ( Lareh ). Lareh yang Pertama di Lubuk Basung ialah “Dt. Kayo”, beliau Memerintah dari Tahun 1846 sampai Tahun 1868 dan sesudah itu digantikan oleh anaknya yaitu Dt. Sari Pado yang memerintah dari Tahun 1868 M sampai 1908 M. Diwaktu Pemerintahan Lareh, Kepala Pemerintahan Nagari bernama Penghulu Kepala. Kelarasan ini dijunjung oleh 4 Nagari yaitu :
1. Kandis,
2. Bonjol Baru,
3. Garagahan dan
4. Kampung Pinang.
Sewaktu Pemerintahan Kelarasan ini dibuat Tugu ( Togo ) batas antara Kelarasan Lubuk Basuk dan Manggopoh. Tugu itu terletak ditepi jalan lintas Lubuk Basung – Padang yaitu + 30 Meter sebelah Barat simpang Balai Selasa Kampung Pinang. Pada Tahun 1908 M Kelarasan dihapus dan Pemerintahan di ganti dengan Wakil Laras atau Demang. Demangnya Inyiak DARWIS. Diwaktu Pemerintahan Demang mulai Tahun 1908 M sampai 1914 M, Pangkat Penghulu Kepala ditukar dengan Kepala Nagari. Masa Pemerintahan Demang Darwis beliau mententukan batas Administasi Pemerintahan, Batas Kampung Pinang dengan Lubuk Basung dibuatlah Togo (Tugu) . Sebelah Timur Batas Kampung Pinang dengan Lubuk Basung dibuat Tugu disudut jalan Pulai Lakuak atau Pas disudut tanah Alm Hj. Rakena, ke Utara menuju Lakuak Jilatang , terus Tugu di Anak Aia Rambaian di Batang Sitalang terus Parak Kabun, terus ke Parak Manggih, disana kebaratnya Ke Parak Naneh, terus ke Pinang Balirik dari sana ke Lakuak Siamang, menuju Bukik Caliak (Rimbo Jua), dari Rimbo jua ketimur pusaro Inyiak Panjang, dari situ kebatu Togo Angku Lareh di Balai Selasa tepat disudut tanah Huller Sri Andalas, terus Paraman Tali-tali, Ke Timur menuju Jalan Bancah Taleh, kembali kejalan lintas didepan rumah Alm. Hj. Rakena.